Sony Music Entertainment baru saja mengajukan gugatan baru terhadap Udio, perusahaan di balik generator musik berbasis AI. Dalam dokumen yang diajukan di pengadilan New York, Sony menyebut Udio telah melanggar hak cipta lebih dari 30.000 lagu milik mereka.
Daftar lagu yang disebutkan cukup beragam, mulai dari Hound Dog milik Elvis Presley, Say My Name dari Beyoncé, hingga As It Was yang dibawakan Harry Styles. Gugatan ini datang hanya beberapa bulan setelah kasus serupa muncul di industri yang sama.
Udio sendiri adalah platform yang memungkinkan pengguna membuat lagu hanya dengan mengetik deskripsi teks. Model AI-nya dilatih menggunakan data audio dalam jumlah besar, dan Sony menilai proses pelatihan itu melibatkan salinan lagu-lagu mereka tanpa izin.
Dari sisi teknis, kasus ini menyoroti cara kerja model AI generatif yang biasanya membutuhkan data masif untuk menghasilkan output berkualitas. Banyak pengembang AI musik mengandalkan dataset yang mencakup rekaman komersial, sehingga muncul pertanyaan besar soal lisensi dan kompensasi.
Salah satu analisis yang muncul adalah bahwa gugatan ini bisa memperlambat laju inovasi di sektor AI musik kecil. Startup seperti Udio biasanya beroperasi dengan sumber daya terbatas dibandingkan perusahaan besar, sehingga biaya litigasi dan kemungkinan harus membayar royalti bisa membuat mereka kesulitan bertahan atau bahkan menghentikan layanan.
Analisis kedua berkaitan dengan tren regulasi yang lebih luas. Kasus Sony versus Udio ini menambah daftar panjang sengketa antara label musik dan perusahaan AI. Bila pengadilan memenangkan Sony, kemungkinan besar akan muncul tekanan bagi platform AI lain untuk mencari model bisnis yang melibatkan lisensi resmi atau pembagian pendapatan dengan pemegang hak cipta.
Bagi musisi dan pencipta lagu, hasil dari gugatan ini juga bisa menjadi preseden penting. Jika AI diizinkan melatih diri dengan karya berhak cipta tanpa persetujuan, maka nilai ekonomi dari sebuah lagu berpotensi menurun drastis di era digital.
Di sisi lain, pendukung teknologi AI berargumen bahwa pelatihan model semacam ini termasuk dalam kategori fair use, mirip dengan cara manusia belajar musik dari mendengarkan lagu-lagu existing. Namun argumen tersebut masih harus diuji di pengadilan.
Saat ini Udio belum memberikan pernyataan resmi terkait gugatan terbaru Sony. Sementara itu, industri musik secara keseluruhan sedang mengamati bagaimana kasus ini akan berkembang dan apa dampaknya terhadap masa depan pembuatan musik berbasis kecerdasan buatan.
