Baru-baru ini Meta lagi menghadapi gelombang kritik yang cukup keras terkait peluncuran kacamata pintarnya. Di beberapa kota besar seperti New York, London, dan Washington DC, iklan resmi produk itu ditutupi poster satir buatan kelompok aktivis. Salah satu poster menyebut kacamata tersebut sebagai kemajuan terbesar teknologi pengintip sejak jas trenchcoat, sementara yang lain menyoroti wajah Kylie Jenner dengan tulisan soal mass surveillance.
Kritik ini muncul karena kacamata pintar Meta dilengkapi kamera yang selalu aktif dan kemampuan rekam tanpa indikator jelas. Banyak orang khawatir perangkat ini bisa dipakai untuk merekam orang lain secara diam-diam di tempat umum, tanpa persetujuan. Aktivis melihat ini sebagai langkah mundur dalam perlindungan privasi, apalagi di era di mana data pribadi sudah jadi komoditas besar.
Salah satu konteks penting yang perlu dicatat adalah kegagalan Google Glass beberapa tahun lalu yang juga kena backlash serupa karena isu privasi. Saat itu, orang-orang menolak perangkat yang bisa merekam tanpa sepengetahuan orang sekitar, sampai-sampai muncul istilah “Glasshole”. Meta sepertinya belum belajar sepenuhnya dari pelajaran itu, padahal teknologi AR sekarang jauh lebih matang dan bisa dipakai sehari-hari.
Dampaknya bukan cuma soal citra merek. Kepercayaan pengguna terhadap produk wearable Meta bisa menurun drastis, terutama di kalangan yang sudah sensitif dengan rekam jejak perusahaan soal data. Kalau tidak ditangani dengan baik, ini berpotensi memperlambat adopsi teknologi AR secara keseluruhan, karena orang akan ragu memakai perangkat yang dianggap mengancam privasi.
Meta memang sudah menyediakan fitur indikator LED saat merekam, tapi aktivis bilang itu tidak cukup karena mudah diabaikan atau dimatikan. Mereka menuntut transparansi lebih tinggi, seperti notifikasi otomatis ke orang di sekitar atau batasan rekaman di tempat umum. Tanpa langkah konkret, kampanye pemasaran yang mahal bisa sia-sia karena ditolak di lapangan.
Ke depan, perusahaan perlu memikirkan ulang pendekatan mereka terhadap produk yang melibatkan rekaman visual. Bukan cuma soal fitur, tapi juga edukasi publik dan regulasi yang lebih ketat. Kalau tidak, kacamata pintar berisiko jadi produk yang keren di kertas tapi ditolak pasar karena masalah kepercayaan yang mendasar.






